GIGIT
Ustadz : Assalamu’alaikum anakku …
Aku : Wa’alaikummussalam Ustadzah
Ustadz : Apa yang engkau renungkan itu, anakku ? Bagaikan ada tanda tanya di wajahmu.
Aku : Emm..nyamuk ini Ustadz, geram juga saya dibuatnya. Tapi saya sedang hibur hati saya untuk terima kehadirannya. Nyamuk itu gigit saya tadi. Habis darah saya.
Ustadz : Oh … itu yang engkau fikirkan
Aku : Mungkin sudah rezekinya kan Ustadz.
Ustadz : Engkau ridhalah…ianya adalah suatu keadilan sebenarnya.
Aku : Keadilan ? Kenapa Ustadz kata macam itu ?
Ustadz : Bukankah makhluk-makhluk kecil lain menerima dengan ikhlas gigitanmu ?
Aku : Hah ? Saya tak pernah gigit nyamuk !
Ustadz : Sabar anakku … bukankah engkau menggigit makhluk-makhluk lain seperti buah-buahan dan hampir semua binatang. Buah seperti apel, limau, tembikai, durian. Dan engkau juga gigit daging lembu, ayam, ikan, udang, burung.
Aku : Memang lah … itu kan makanan saya.
Ustadz : Itulah keadilan Allah, janganlah engkau mengeluh. Ia baru satu gigitan kecil berbanding gigitan-gigitanmu yang banyak terhadap pelbagai makhluk Allah yang lain.
Aku : Ya, insya Allah, Ustadz. Saya takkan mengeluh lagi. Kalau darah saya sudah rezeki untuk nyamuk itu, saya ridha.
Ustadz : Alhamdulillah engkau sudah faham. Jumpa lagi ya anakku. Do’akan aku.
Aku : Insya Allah, Ustadz. Harap nanti saya dapat jumpa Ustadz lagi. Terima kasih, Ustadz. Assalamu’alaikum
Ustadz : Wa’alaikummussalam
(Taken from Mutiara Amaly Volume 41)
banyak bgt tu komen. jadi kalo dikumpulin tulisannya jadi sebuah novel tu. btw q gak bisa komen mls q komen k org. q komen diriku sendiri aj. tapi kalo u mghargai lin. bagus lah. toip abiezzz. tggu blognya sugab y?