SEMUT
Petang itu saya ke tepi sungai. Membawa sebungkus nasi berlauk telur goreng dan perkedel. Setelah selesai makan, bagian kuning telur yang saya tak makan saya buang ke atas tanah.
Kemudian saya membaca buku. Waktu itu, saya melihat seekor semut hitam besar di kuning telur yang saya buang. Saya biarkan saja semut itu. Saya terus membaca.
Tak sampai lima menit ratusan semut hitam datang berbaris pergi dan balik ke arah kuning telur yang telah saya buang. Sebentar saja kuning telur itu sudah tinggal separuh.
Saya sungguh tercenung, apakah sistem informasi yang dipakai oleh semut-semut itu?
Sekejap mata saja, semua semut itu sudah tahu kabar tentang kedatangan kuning telur yang saya buang. Saya bertanya-tanya bagaimana bentuk pengumuman yang disampaikan kepada anggota jama’ah semut tentang rezeki yang jatuh dari langit itu ?
Mungkin begini : “Wahai semut-semut saudaraku sekalian, ada seorang manusia yang memubazirkan dan tidak bersyukur telah buang kuning telur. Mari kita angkut masuk dalam sarang. Kalau manusia itu tidak tahu bersyukur, biarlah kita saja yang bersyukur kepada Allah:.
Saya memang hamba yang tak tahu bersyukur. Saya selalu mengeluh bila ada semut banyak sekali, mengganggu kerja, menggigit dan mengurung serta asyik masuk dalam air minum.
Tetapi semua semut itu juga mungkin merengut pada Allah. “Wahai Tuhan, lebih baik Engkau jadikan semut banyak-banyak karena setiap saat kami senantiasa mengagungkanMu, berdzikir dan bertasbih berbanding makhlukMu yang berkepala besar itu. Walaupun dia seorang saja, tapi dia selalu lalai.”
Astaghfirullah..Ya Allah…jadikan aku hamba yang bersyukur.
(Taken from Mutiara Amaly Volume 41