Arzivamaulana’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

ma poems waktu es-em-a October 26, 2007

Filed under: Uncategorized — arzivamaulana @ 11:08 am

KERESAHAN FANA

Lembut surya menerpa paras

Ketika diri dalam kekalutan

Menyimpan hasrat yang tak tertahan

Kerlingan sinar buaian hati

Melambung tinggi menggenggam kapas

Berteriak memekak suara parau

Hindarkan rasa yang membeku

                                                                   (Moskva’01)

DAPATKAH

Di suatu masa nanti

Aku akan susuri jalan itu

Dapatkah aku susuri ?

Kuterangi pula dengan sinar temaram

Dapatkah aku terangi ?

Di manakah jawabannya ?

Gelisah menggelayuti setiap hari

Fantasi ributkan lemah diri

Dalam kegalauan batin sepi

Kepastian selalu kunanti

Untuk mewujudkan harga diri

Dalam pergulatan tiap insani

                   (Moskva’01)

TERLUPA

Tak kusadari ruang ini kosong

Samar terlihat hijab-hijab tipis

Hijab itupun mulai tampak lamur

Lampu tak lagi menerangi

Ruangan ini makin memperlihatkan

gelapnya

Tak ada kipas angin yang

menyejukkan

Ruangan ini terasa sesak dan sumpek

Tanpa sadar ruang itu milikku sendiri

                        (Moskva’01)

KISAH TERULANG

Bergumul ombak di lautan

Mencoba terpisah dari lingkungan

Berusaha mencapai tepian

Angin membantu menyeretnya

Dengan petir yang membahana

Badai makin meramaikan suasana

Akibat niatnya melibatkan yang lain

Mengorbankan nelayan yang tak tahu menahu

Hanya nafkah yang mereka tuju

Hanya segelintir busa ombak capai tujuan

Selebihnya kembali ke lautan

Setelah menelan banyak korban

Lautan terpaksa menerima kembali

Walau dengan penyesalan hati

Pemaaf dipaksakan jadi alasan

Desakan nafkah untuk bertahan hidup

Mengajak ombak bergumul kembali

Dalam lautan yang ganas

 

Nelayan kembali dikalahkan ombak

Hanya busa ombak capai tujuan

Kejadian terus berulang

                                                                                    (Moskva’00)

 

At tHe tiMe of uNceRTain prESent n fuTUrE October 10, 2007

Filed under: Uncategorized — arzivamaulana @ 7:24 am

KENAPA HARUS ADA KECOA DI DUNIA INI ???????!!!!!!!!

            Kecoa…kecoa…kecoa…dengar kata itu rasanya hati berkecamuk. Cuma dia satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang bisa merubah moodku dalam seketika. Seperti siang ini, semangat sudah kucoba kumpulkan untuk segera menyelesaikan skripsiku. Tenang kududuk di belakang meja, kutekan tombol play pada tape keramatku[1] dan mengalunlah “Little Wing” dari sekumpulan bersaudara The Corrs. Ketajaman mataku tanpa memfokuskan pada objek tertentu mulai teruji ketika dari arah samping terlihat empiris saudara Rico de Coro[2] mulai mengagumi gorden kamarku. Sering terlintas, bahkan lebih dalam lagi teranalisa, apakah aku adalah pemeran pengganti bagi saudara Rico de Coro itu? Tapi yang jelas itu bukanlah menjadi kebanggaanku. Hingga rasanya tiada hari tanpa pertemuan dengannya yang terasa spesial dengan kejutan-kejutan listrik pada urat-urat syaraf mata, segera menjalar ke otak, hingga menusuk ke hati. Ah … mungkin bagi orang itu berlebihan, tapi kutekankan di sini “IT IS EXIST!!!”

            Back to the incident, dengan semangat penuh positive thinking bahwa aku bisa menyelesaikan satu sub bab dalam rentang waktu dzuhur menuju ashar lalu mengumpulkannya bersama bab-bab lainnya dalam flash disku di rental nanti, aku mencoba berkonsentrasi dan ternyata … ketajaman otakku untuk berkonsentrasi dengan ditemani oleh empat hak azasi hati dan pikiran manusia yang salah satunya adalah untuk merasa aman (extended meaning) yang pernah disimpulkan oleh F. D. Roosevelt[3] menolak kondisi eksternal ku yang telah menciptakan situasi dilema keamanan. Sad ending pun menjadi kisah penutup siang itu dan yup … dengan sukses sang kecoa berhasil mengusir ku dari kamarku sendiri tanpa ia sadari mungkin sebagai alibinya.

            Itu bukan kasus pertama aku harus itsar[4], menerapkan pepatah “tamu adalah raja”, ataupun “ada gula ada semut” (ada orang manis sampe kecoa pun tertarik…ck…ck …ck). Seperti suatu malam, ketika SCTV menepati jadwalnya dengan mengetengahkan Topik Utama dan bertemakan “Kunjungan Bush ke Indonesia: Antara Kemunafiqan, Ketidakberdayaan, Keserakahan, Keterinjakkan Harga Diri, atau Kebodohan”[5], sekali lagi aku harus mengalah demi kebahagiaan mereka. Diawali dengan kemunculan satu kecoa, kemudian satu lagi menyusul, dan yang lainnya semakin pintar membaca sinyal bahwa kesuksesan kawannya bermondar mandir menandakan kondisi aman. Jadilah ruang TV menjadi arena taman bermain. Seperti seolah-olah pahlawan kebenaran, mereka lompat dari satu sepeda ke sepeda lain, melatih keseimbangan di atas sepeda motor dengan penuh positive thinking pula bahwa sang manusia akan mengalah[6]. Dan benar saja, aku harus menatap dialog antara pihak Deplu, perwakilan kelompok Islam yang kontra, dan salah satu LSM itu dari jarak lebih dari 2 meter. Sejak saat itulah aku sangat berterima kasih kepada pencipta remote control TV.

            Kebiasaannya melanggar wilayah privacy-ku tampaknya sudah menjadi berlebihan. Klausa tersebut terjadi ketika rutinitas keseharian –tanpa adanya aturan tertulis, untuk membersihkan badan minimal dua kali sehari terganggu oleh kehadirannya yang mungkin memandang kamar mandi sebagai Taman Air (Water Boom) seperti di Dufan, Ancol. Jadilah air satu bak habis kugunakan untuk menyiramnya -dengan maksud mempertahankan harga diriku. Hatiku sempat tersentuh juga ketika ia berusaha berpegangan pada pinggiran lubang air agar tidak ikut terhanyut dalam gelombang tsunami buatan itu, penerapan “tak ada rotan, akarpun jadi” tampaknya berusaha benar-benar ia aplikasikan, tapi tentu saja harga diriku lebih kuutamakan. Dan kali ini kemenangan ada ditanganku, karena akhirnya ia menyerah dengan berliter-liter air yang kutumpahkan dan memilih goin’ where the water flows. Apakah aku benar-benar menang ?.. Beberapa hari kemudian kuketahui dari sohibku Bopit, bahwa pipa pembuangan air seringkali menjadi sarang kecoa, jadi yang kulakukan beberapa hari lalu hanyalah menyuruh pulang seekor kecoa yang kurang waspada untuk dilatih kekuatan survivalnya lagi oleh orang tuanya, saudaranya, temannya, atau mungkin gurunya, untuk kemudian diuji lagi di medan perang. Kenyataan itu membuatku shock dan haruskah aku berkata “tunggu tanggal mainnya!”?.

            Kecoa memang merupakan salah satu binatang terkuat di dunia, karena ia bisa bertahan hidup selama berhari-hari, tanpa makan dan minum, dengan kondisinya yang terlentang … membayangkan kakiknya yang bergerak-gerak berusaha untuk membalikkan badannya sudah mampu membuat mataku menyipit dan bibirku bergerak tak beraturan hingga terucap “iuuuhh…”. Hal ini terbukti juga ketika ia berusaha bertahan dalam gelombang tsunami buatanku itu, kekuatan cengkraman kakinya (kaki atau tangan ya ??!!!??) pada pinggiran lubang air hingga menganjurkanku untuk sekalian saja menguras bak mandi karena air yang telah tertumpah. Bahkan ketika kepala telah lepas dari tubuh mereka pun, mereka masih bisa bertahan hidup, dan kematian menjemput mereka adalah lebih karena tidak adanya energi dalam bentuk makanan yang masuk ke dalam tubuh mereka, coz they have no head. Kenyataan ini mengingatkanku pada celetukan adik kosku “gedean mana sih kecoa sama mba’?” yang tentu saja adalah sebuah kalimat retorika bermakna konotatif. Dan saat ini aku bisa menjawabnya “mereka memang kecil, tapi mereka kuat”…Don’t you think Allah Maha Adil…


[1] Jika’ syari’ah mengijinkan penggunaan kata ‘keramat’….karena susah bagiku menemukan padanan kata lain untuk sebuah tape ecek-ecek (ini jika kaidah EYD mengijinkan penggunaan kata ‘ecek-ecek’) yang untuk kesekian kalinya terjatuh dan kali ini dari atas meja belajarku dengan ketinggian ± 1 meter dan terciptalah kondisi mengenaskan dengan pembelahan miosisnya menjadi dua bagian…tapi sampai detik ini dia masih berusaha membuktikan komitmen kesetiaannya hingga nanti akhirnya aku bisa menyandang titel Sarjana Sosial di tanah perantauan (sebenarnya aku lebih suka menyebutnya Sarjana Ilmu Hubungan Internasional atau kesepakatan ‘mereka’ –akupun tak tahu siapa mereka, menyebutnya Sarjana Ilmu Politik), atau tidak menutup kemungkinan my whole life.

[2] Ini satu-satunya cerpen tentang kecoa ‘Rico de Coro’ dalam kumpulan cerpen Dee “Filosofi Kopi” yang langsung bisa membuat rambut-rambut halus kulitku berdiri teratur seiring irama keironisan kematian sang Rico de Coro demi menyelamatkan Sarah, manusia yang dicintainya.

[3] Hak atas rasa aman, hak atas hidup, etc…bacalah di buku sejarah kalian…

[4] Itsar : mengutamakan kepentingan saudaranya/orang lain dari pada kepentingan pribadi

[5] Tepatnya itu adalah usulan tema dari kerja sama apik antara mata, otak, dan hatiku untuk menggambarkan kondisi kontroversi di Indonesia mengenai kunjungan George W. Bush Nopember lalu

[6] Agar lebih mudah membayangkan, ruang TV untuk sementara juga menjadi tempat penyimpanan motor dan sepeda karena kondisi garasi yang tidak memungkinkan –yang akan menyalahi pesan Bang Napi “kejahatan tidak hanya muncul karena adanya niat sang pelaku, teapi juga karena ada kesempatan. WASPADALAH 3X!”, dengan pintunya yang tidak lagi bisa menerima password kunci sebagai pembukanya, dan sebagai hukumannya, terdobraklah pintu itu hingga kehilangan fungsinya.

 

Hello world! October 10, 2007

Filed under: Uncategorized — arzivamaulana @ 6:53 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!