KENAPA HARUS ADA KECOA DI DUNIA INI ???????!!!!!!!!
Kecoa…kecoa…kecoa…dengar kata itu rasanya hati berkecamuk. Cuma dia satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang bisa merubah moodku dalam seketika. Seperti siang ini, semangat sudah kucoba kumpulkan untuk segera menyelesaikan skripsiku. Tenang kududuk di belakang meja, kutekan tombol play pada tape keramatku dan mengalunlah “Little Wing” dari sekumpulan bersaudara The Corrs. Ketajaman mataku tanpa memfokuskan pada objek tertentu mulai teruji ketika dari arah samping terlihat empiris saudara Rico de Coro mulai mengagumi gorden kamarku. Sering terlintas, bahkan lebih dalam lagi teranalisa, apakah aku adalah pemeran pengganti bagi saudara Rico de Coro itu? Tapi yang jelas itu bukanlah menjadi kebanggaanku. Hingga rasanya tiada hari tanpa pertemuan dengannya yang terasa spesial dengan kejutan-kejutan listrik pada urat-urat syaraf mata, segera menjalar ke otak, hingga menusuk ke hati. Ah … mungkin bagi orang itu berlebihan, tapi kutekankan di sini “IT IS EXIST!!!”
Back to the incident, dengan semangat penuh positive thinking bahwa aku bisa menyelesaikan satu sub bab dalam rentang waktu dzuhur menuju ashar lalu mengumpulkannya bersama bab-bab lainnya dalam flash disku di rental nanti, aku mencoba berkonsentrasi dan ternyata … ketajaman otakku untuk berkonsentrasi dengan ditemani oleh empat hak azasi hati dan pikiran manusia yang salah satunya adalah untuk merasa aman (extended meaning) yang pernah disimpulkan oleh F. D. Roosevelt menolak kondisi eksternal ku yang telah menciptakan situasi dilema keamanan. Sad ending pun menjadi kisah penutup siang itu dan yup … dengan sukses sang kecoa berhasil mengusir ku dari kamarku sendiri tanpa ia sadari mungkin sebagai alibinya.
Itu bukan kasus pertama aku harus itsar, menerapkan pepatah “tamu adalah raja”, ataupun “ada gula ada semut” (ada orang manis sampe kecoa pun tertarik…ck…ck …ck). Seperti suatu malam, ketika SCTV menepati jadwalnya dengan mengetengahkan Topik Utama dan bertemakan “Kunjungan Bush ke Indonesia: Antara Kemunafiqan, Ketidakberdayaan, Keserakahan, Keterinjakkan Harga Diri, atau Kebodohan”, sekali lagi aku harus mengalah demi kebahagiaan mereka. Diawali dengan kemunculan satu kecoa, kemudian satu lagi menyusul, dan yang lainnya semakin pintar membaca sinyal bahwa kesuksesan kawannya bermondar mandir menandakan kondisi aman. Jadilah ruang TV menjadi arena taman bermain. Seperti seolah-olah pahlawan kebenaran, mereka lompat dari satu sepeda ke sepeda lain, melatih keseimbangan di atas sepeda motor dengan penuh positive thinking pula bahwa sang manusia akan mengalah. Dan benar saja, aku harus menatap dialog antara pihak Deplu, perwakilan kelompok Islam yang kontra, dan salah satu LSM itu dari jarak lebih dari 2 meter. Sejak saat itulah aku sangat berterima kasih kepada pencipta remote control TV.
Kebiasaannya melanggar wilayah privacy-ku tampaknya sudah menjadi berlebihan. Klausa tersebut terjadi ketika rutinitas keseharian –tanpa adanya aturan tertulis, untuk membersihkan badan minimal dua kali sehari terganggu oleh kehadirannya yang mungkin memandang kamar mandi sebagai Taman Air (Water Boom) seperti di Dufan, Ancol. Jadilah air satu bak habis kugunakan untuk menyiramnya -dengan maksud mempertahankan harga diriku. Hatiku sempat tersentuh juga ketika ia berusaha berpegangan pada pinggiran lubang air agar tidak ikut terhanyut dalam gelombang tsunami buatan itu, penerapan “tak ada rotan, akarpun jadi” tampaknya berusaha benar-benar ia aplikasikan, tapi tentu saja harga diriku lebih kuutamakan. Dan kali ini kemenangan ada ditanganku, karena akhirnya ia menyerah dengan berliter-liter air yang kutumpahkan dan memilih goin’ where the water flows. Apakah aku benar-benar menang ?.. Beberapa hari kemudian kuketahui dari sohibku Bopit, bahwa pipa pembuangan air seringkali menjadi sarang kecoa, jadi yang kulakukan beberapa hari lalu hanyalah menyuruh pulang seekor kecoa yang kurang waspada untuk dilatih kekuatan survivalnya lagi oleh orang tuanya, saudaranya, temannya, atau mungkin gurunya, untuk kemudian diuji lagi di medan perang. Kenyataan itu membuatku shock dan haruskah aku berkata “tunggu tanggal mainnya!”?.
Kecoa memang merupakan salah satu binatang terkuat di dunia, karena ia bisa bertahan hidup selama berhari-hari, tanpa makan dan minum, dengan kondisinya yang terlentang … membayangkan kakiknya yang bergerak-gerak berusaha untuk membalikkan badannya sudah mampu membuat mataku menyipit dan bibirku bergerak tak beraturan hingga terucap “iuuuhh…”. Hal ini terbukti juga ketika ia berusaha bertahan dalam gelombang tsunami buatanku itu, kekuatan cengkraman kakinya (kaki atau tangan ya ??!!!??) pada pinggiran lubang air hingga menganjurkanku untuk sekalian saja menguras bak mandi karena air yang telah tertumpah. Bahkan ketika kepala telah lepas dari tubuh mereka pun, mereka masih bisa bertahan hidup, dan kematian menjemput mereka adalah lebih karena tidak adanya energi dalam bentuk makanan yang masuk ke dalam tubuh mereka, coz they have no head. Kenyataan ini mengingatkanku pada celetukan adik kosku “gedean mana sih kecoa sama mba’?” yang tentu saja adalah sebuah kalimat retorika bermakna konotatif. Dan saat ini aku bisa menjawabnya “mereka memang kecil, tapi mereka kuat”…Don’t you think Allah Maha Adil…